Saya: Te, ini bagus geura video tentang spiritualitas ama otak.
…..Tante saya sempat menghampiri hemdak melihat….
Saya: Ada Jalaludin Rakhmatnya
Tante: Ah Jalaludin Rakhmat mah orang…
Saya: Syi’ah?
Tante: Iya
……Tante saya kemudian pergi.
- Kemudian saya heran mengapa perbedaan Sunni atau Syi’ah atau apapun itu bisa mencegah kita mendapatkan pengetahuan??? Kenapa ini (masih) terjadi? Berapa buku literatur pengetahuan karya orang non muslim yang kita baca? Lho kok masa sesama Islam saling menutupi? Ini hanya contoh kasus yang dengan mudah dan tak disangka-sangka kita temui di kehidupan sehari-hari. Aneh memang, perlu kita renungkan kembali cara kita beragama. Saya percaya aqidah saya mengajarkan untuk berakhlaq baik bahkan kepada mereka yang tak se-aqidah dengan saya. Secara sosiologis, ini merupakan ikatan primordial yang kunjung jadi entnosentris dan fanatis -yang sebenarnya merusak otak berdasarkan penelitian para neuroscientist bisa dibaca dalam buku ‘How God Changes Your Brain’
wallahu a’lam