Aku seorang majenun
yang tak tahu di mana Lailanya berada.
Namun kutetap menyurati dia -kutanyai dia tentang kabar pencinta lainnya yang mungkin ia temui sepanjang perjalanannya menuju Roma-
lewat cuaca.
Aku seorang majenun
yang berteman sunyi.
Aku dan sunyi adalah asap dan api -Satu-satunya yang membedaka kami, aku punya hati. Di mana dalam hati itu aku tetap dapat berpilin dan berpuisi-
seperti telah diberkati.
Aku seorang majenun
yang tidak menyadari
Laila di pojok kelas dua tahun mengeja cinta
dan semuanya berhenti
setelah aku bisa banyak berkata-kata, ternyata tak kupelajari apa-apa.
Sekarang, alaf ini milik kita!