Karena matamu aku melihat cahaya nikmat,
yang tak nampak lagi oleh mata sendiri,
Dan walau aku lumpuh, kuberanikan hati
memikul beban, karena yakin kakimu kuat.
Aku yang bersayap, oleh sayapmu terangkat,
rohmu yang membukakan daku gerbang Firdausi.
Kau sanggup bikin pipiku merah dan pasi,
panas di musim dingin, kelu di tengah hangat.
Dalam kemauanmu, bersemi kemauanku,
Pikirku, dadamulah tempat asal-usulnya,
dan nafasmu berhembus di tiap kataku.
Nampaknya, imbangan bulan geliatlah aku,
yang nun di luhur hanya tertangkap oleh mata
semasih Surya merestuinya dengan kemilau
(Michael Angelo/ Bounarroti)