3 Hati 2 Dunia 1 Cinta merupakan film karya sutradara Benni Setiawan yang boleh jadi akan lebih menarik apabila kita menganalisanya sekelumit permasalahan yang ada dalam film ini akan mudah kita pahami penyebab-penyebabnya dan mungkin juga pemecahannya apabila kita gunakan perspektif sosiologi. Sekilas, film ini menceritakan tentang percintaan antara Roshid, seorang yang beragama Islam dan nilai religiusitas dalam keluarganya yang kental dengan Delia, seorang yang beragama Kristen Katolik dan dari keluarga kaya raya.
Perbedaan yang paling mencolok dari kedua tokoh tersebut yaitu latar belakang agama, agama menurut Durkheim adalah suatu system terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci, dan bahwa kepercayaan dan praktik tersebut mempersatukan semua orang yang beriman kedalam suatu komunitas moral yang dinamakan umat (Sunarto, 2004:67). Agama membedakan orang yang seiman (umat) dan yang tidak seiman dan akibatnya, pernikahan yang dianggap suci pun sulit terlaksana karena perbedaan agama antara dua tokoh. Norma dalam agama mengakibatkan orang cenderung memilih pasangan yang sekomunitas atau seiman dengannya. Maka, keluarga Roshid pun menjodohkan dia dengan orang yang seiman dengannya, datanglah Nabila. Secara tidak langsung, agama menjadi social force bagi Roshid untuk menentukan dengan siapa ia harus menikah. Padahal, pernikahan itu merupakan personal choice tetapi ada social context yang bermain lewat agama.
Perbedaan pendidikan dan perbedaan kekayaan materi merupakan status yang membedakan strata kedua tokoh tersebut. Karena Roshid memiliki strata yang lebih rendah dibandingkan Delia, itu membuat keluarga Delia makin tidak mendukung hubungannya dengan Roshid.
Kemudian secara symbolic interactionism, agama akan memberikan pemaknaan (meaning) kepada para penganutnya tentang sesuatu (thing) sehingga mengatur bagaimana mereka bertindak (act). Contohnya, Roshid diminta oleh ayahnya untuk menggunakan (act) peci warna putih (thing) karena itu merupakan ciri yang telah turun temurun dipakai oleh para pengikut agamanya (meaning). Namun, Roshid tidak menyetujuinya begitu saja, ia melakukan interpretative process yang kemudian membuatnya bereaksi dengan cara menolak permintaan ayahnya tersebut. Di pihak Delia, agamanya memberikan simbol kalung salib dengan pemaknaannya sendiri
Dapat dilihat pula tahap interaksi kedua tokoh itu dengan jelas. Tahap mendekatkan, mereka lakukan dari initiating, experimenting, intensifying dan integrating tetapi tidak sampai tahap bonding karena halangan-halangan yang mereka hadapi. Uniknya, dalam film ini proses perenggangan langsung ke tahap terminating karena hubungan mereka tidak bisa mencapai tahap bonding sehingga membuat mereka berpikir hubungan mereka tidak dapat dilanjutkan dan sebaiknya diputuskan saja.
Dan apabila kita menggunakan pendekatan konflik maka akan terlihat tokoh-tokoh yang bertentangan karena memiliki kepentingan yang berbeda. Contohnya ayah Roshid bertentangan dengan Roshid karena ia memiliki kepentingan untuk menjaga keluarganya dan mempertahankan norma agama di keluarganya. Berbeda dengan Roshid yang memilki kepentingan untuk menikahi Delia, wanita yang ia cintai.
Sekali lagi, sosiologi menunjukan kegunaannya lewat konsep dan teorinya yang bisa kita terapkan untuk menganalisa film ini. Tak diragukan lagi sosiologi sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat memahami masyarakat itu sendiri dan, mungkin, membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan di dalamnya.
(tugas review study skill)