“Variations in behavior, then are confined within socially acceptable limits … ” (Ember, 1985: 169)
“Patterns of human behavior-cultural norms, values, and beliefs-exist as established structures, … that have objective reality beyond the live of individuals.” (Macionis 2008: 105)
“Here, then, is a category of facts with very distinctive characteristics: it consist the ways of acting, thinking, and feeling, external to the iandividual, and endowed with a power of coercion, by reason of which they control him … ” (Durkheim, 1965: 3-4)
Dari uraian para ahli di atas saya pengen nanya, apa kita punya kebebasan? Kebebasan untuk melakukan apa yang kita mau. Sebenarnya pas kita bilang kebebasan berarti ada yang kita ‘lawan’. Ada semacam aturan yang abstrak yang membelenggu hidup kita sehingga membuat kita ingin bebas. John Locke bilang state of nature manusia itu bebas. Oleh karena itu harus ada sebuah kekuatan yang saking kuatnya hingga dapat mengatur manusia, maka didirikanlah negara.
Oke, negara itu ‘pembatas’ bagi kita (seorang individu) secara luas dalam berkewarganegaraan. Ambil saja keluarga sebagai contoh kecilnya, lebih spesifik anggota keluarga itu sendiri, ibu kita. Secara tidak sadar, ada semacam kekuatan dari sang ibu yang mengatur tingkah kita sampai cara berfikir dan berperasaan kita.
Sedangkan si ibu ‘diatur’ oleh si ayah -dalam sistem kekeluargaan yang paternal seperti di kebanyakan daerah di Indonesia- yang kedudukannya lebih tinggi. Sedangkan si ayah ‘diatur’ oleh keluarga secara kesatuan. Kemudian keluarga ‘diatur’ oleh masyarakat.
Seberapa besar kekuatan itu berkerja pada kita? Ini bergantung di tempat mana kita hidup bersosial. Semakin tradisional sebuah masyarakta, maka fakta sosial yang berkerja pada tiap anggotanya makin besar pula. Sebaliknya dengan masyarakat modern, “Max Weber agreed with Karl Marx that modern society is alienating to the individual … ” (Macionis, 2008: 105). Semakin kuat fakta sosial dalam sebuah masyarakat, semakin terbelenggu pula para anggotanya. Semakin terbelenggu anggotanya, maka anggotanya tidak dapat berinovasi. Maka tak aneh apabila tidak ada atau jarang sekali penemu dari suku-suku terluar (dengan segala hormat). Jika kita jauhkan sedikit pula pandangan kita, maka kita akan tahu kenapa kebanyakan penemu, pemikir dan inovator-inovator berasal dari negara maju yang, bisa dikatakan, fakta sosialnya lebih cair daripada di negara yang lebih kaya atau kental budayanya terlepas dari pengamalan dan interpretasi akan budaya tersebut oleh si anggota masyarakat.
Fakta sosial tidak boleh kita jadikan sebagai pembatas atau sebagai musuh yang membelenggu kita. Namun jadikanlah fakta sosial sebagai panduan hidup. Dan ingatlah “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change.”, kata Charles Darwin. Ingat pula, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
We have no freedom, include a newborn baby.