ad astra nitamur semper ad optima

May 09

a-wayhome:

dali

ga usah takut ama kesempurnaan, soalnya ga bakal ada yg bisa mencapainya -Dali

a-wayhome:

dali

ga usah takut ama kesempurnaan, soalnya ga bakal ada yg bisa mencapainya -Dali

(via fuckinjoel)

thekhooll:

 ‘Shop ‘Til You Drop’ - Banksy

thekhooll:

 ‘Shop ‘Til You Drop’ - Banksy

(via apoplecticskeptic)

Aku tertawa teringat rambutku belum kucuci beberapa hari. Pantaslah kalau ini membuatmu enggan datang kembali.

Memang bau, tetapi tak hanya rambutku

May 06

Kepalaku terbentur tembok.

Aduh! Sial kurang keras untuk membuatku lupa akannya

Apr 25

(Source: aprilsaint, via chandradityakusuma)

Kebahagiaan

Jika kita menarik rantai sebab-akibat lebih jauh dan lebih cermat, maka kita akan melihat sebuah kenyataan bahwa esensi eksistensi manusia telah dikomodifikasi oleh materi. Ambil saja contoh passing grade untuk memasuki jurusan tertentu di jenjang Perguruan Tinggi. Dapat kita lihat dengan jelas perbedaan passing grade jurusan satu dan lainnya, katakan saja jurusan favorit dan yang bukan favorit. Mengapa, contohnya, jurusan akuntansi memasang passing grade yang tinggi untuk lulusan SMA yang ingin menuntut ilmu di dalamnya? Atau, mengapa jurusan teknik perminyakan juga melakukan hal yang sama? Apa spesialnya mereka dibandingkan jurusan yang lain? Apakah ada stratifikasi dalam taksonomi ilmu? Atau kenapa? Jawaban yang paling mudah kita dapatkan, apalagi kalau kita tanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada orang tua murid yang hendak memasuki Perguruan Tinggi, adalah karena jurusan-jurusan tersebut memiliki pasarnya yang tak akan pernah sepi; untuk akuntasi, selama manusia terus mengadakan aktifitas ekonomi maka ‘pencatat dan perencana’ itu akan terus dibutuhkan, sedangkan untuk teknik minyak, selama manusia terus membakar bahan bakar fossil, maka para sarjana minyak itu pun akan terus dibutuhkan.

Hal lainnya yang kita harus ingat adalah, orang-orang ini kelak akan memasuki bisnis yang di dalamnya uang dengan jumlah yang amat besar dan berputar dengan cepat. Maka tentu mereka pun akan ikut ‘basah’ selama mereka berada dalam bisnis tersebut. Itu juga memperkuat alasan mengapa passing grade jurusan-jurusan tertentu lebih besar daripada yang lainnya.  

Yang ingin ditekankan dalam tulisan ini bahwa tak semua manusia bisa mencapai ‘welfare’; yang merupakan tujuan akhir sebagian orang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi. Sudah jelas, standarisasi welfare didasarkan pada hitung-hitungan angka dalam ekonomi praktis. Singkatnya, sistem sosial, ekonomi, politik dan (mungkin) budaya kita tidak memungkinkan semua orang mencapai taraf welfare  tersebut. Dalam sistem sosial yang kita dapati sekarang, di mana orang-orang yang berada di lapisan atas cenderung terpisah atau memisahkan diri mereka  dari lapisan yang lebih rendah (top class exclusion). Bentuk eksklusi ini bisa bermacam-macam dan bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari asal kita cermat melihat. Ambil saja contoh Perguruan Tinggi tadi, untuk memasuki Perguruan Tinggi favorit –pertanyaan kenapa Perguruan itu menjadi favorit pun dapat dijelaskan- maka seorang lulusan SMA harus memiliki kompetensi yang baik. Sedangkan kompetensi yang baik itu didapat di SMA yang baik pula, lalu SMA yang baik itu ‘biasanya’ memasang tariff yang oleh kaum lapis bawah akan sangat sulit untuk dipenuhi. Pada akhirnya ada sebuah pelanggengan status yang, mungkin, tidak disadari oleh orang-orang lapis atas.

Implikasi penerapan welfare lama-kelamaan membuat bahkan esensi eksistensi manusia diukur dari seberapa banyak sumber daya yang dia punya. Semua orang sibuk mengejar ‘ends’ berada di lapisan teratas –untuk mudah kita katakana, menjadi kaya. Rasio manusia ditikam tak lagi dapat berkutik, ia direduksi oleh cahaya megah fetisisme kebudayaan pop yang terdiri dari simbol-simbol seperti Jaguar, Louis Vuitton, iPhone, rumah bergaya arsitektur resort bahkan konser-konser music yang harga tiketnya entah mengapa begitu mahal. Kemanusiaan hilang telah terbeli oleh uang-uang yang bergerak naik turun di lantai bursa yang membuat para pemimpin kita harap-harap cemas. Bagi beberapa orang lainnya, mereka sendiri mungkin tak mengerti esensi eksistensi mereka. Mereka kuliah, lulus, kemudian masuk ke dalam korporasi besar yang meng-alienisasi-kan mereka dengan produk yang mereka hasilkan. Mereka membeli produk yang mereka buat sendiri. Kemudian mereka kaya, kemungkinan keturunan mereka pun akan kembali kaya, dan mereka mati. Betapa kecil lingkaran kekayaan personal yang besar ini. Bagi pegawai mereka, para pegawai itu menjadi alat atau modal produksi. Mereka dirubah dalam angka-angka, dihitung berapa dan siapa saja yang dibutuhkan untuk bulan atau tahun ini. Kemanusiaan terkikis.

Nietzche mengharuskan manusia agar menjadi manusia super (übermenschlich) agar eksistensinya bisa terjawab, tak hampa apalagi sampai dimanipulasi oleh hitung-hitungan uang. Namun  kini keadaan makin menusuk manusia, mempersulit  manusia-manusia inferior secara sumber daya bergerak naik. Esensi eksistensi kita dapatkan dari mana saja, sejatinya kita bebas sehingga bebas menetukan esensi diri kita sendiri. Yang harus dihindari adalah pemngambilan esensi secara tidak sadar atau karena dia tidak memiliki lagi kebebasan memilih karena ditekan sistem struktur sedemikian rupa. Orang ‘dipaksa’ mengejar kekayaan karena semua orang seperti itu, dia tidak sadar untuk apa dan akan dibawa kemana dia selama perjalanan pencarian kekayaan tersebut. Atau seseorang dipaksa menjadi kaya untuk ‘memperbaiki’ keadaan. Seakan-akan keadaan atau realitas yang ada baginya hanya ketidakmemilikan sumber daya yang menyiksa. Ia diharuskan lepas dari jeratan kemiskinan untuk kemudian memiliki sumber daya sehingga hidup lebih makmur.Orang tak mampu dipaksa mampu karena kalau tidak, ia akan makin tidak mampu.  Kalau begitu, betapa rendah esensi keberadaan manusia itu. Di mana cita-cita yang lebih mulia dari kesejahteraan materi? Jangan biarkan esensi keberadaan kita terus dibeli oleh uang.

Lalu apa yang harus dikejar manusia? Al-Farabi dalam ‘The Ideal City’ (al madina al fadila) berkata, tujuan utama pemerintah adalah untuk membahagiakan rakyatnya. Senada dengan Al Farabi, Bung Hatta, salah satu founding fathers negeri ini menyatakan bahwa kebahagiaanlah yang dituju oleh Negara ini. Kebahagiaan (happiness) lebih masuk akal daripada kesejahteraan (welfare), karena kebahagiaan diukur oleh dirinya sendiri dan orang mungkin memiliki cara mencapai kebahagiaan dengan berbagai cara. Ini akan meminimalisasi perebutan sumber daya yang menyebabkan kelangkaan sehingga manusia saling sikut untuk mencapai kesejahteraan angka. Kesejahteraan mungkin saja membantu seseorang mencapai kebahagiaan, tetapi akan lebih banyak yang gagal daripada yang sukses. Kebahagiaan bisa disimpan di level mana saja, bertolak belakang dengan kesejahteraan yang telah dipatok (lagi-lagi) oleh angka. Kebahagiaan memungkinkan dicapai oleh lebih banyak orang jika ini menjadi tujuan mereka, dibandingkan dengan kesejahteraan jika disimpan sebagai tujuan. Orang bisa merasa bahagia dengan keadaan mereka tanpa harus memaksakan dirinya untuk mencapai angka-angka yang telah ditentukan oleh para teknokrat. Namun yang menjadi krusial ialah kebahagiaan dalam realitas yang seperti sekarang akan sangat sulit diterapkan, di mana tawa pun –yang bisa dijadikan sebagai ciri orang berbahagia- telah dikomodifikasi. Akan sangat sulit untuk menyerang sebuah kata ‘kapitalisme’ yang telah mengakar kuat sampai ke dalam dan memanipulasi kesadaran (consciousness) kita. Tak salah jika Marx kemudian mengenalkan kota pada konsep false-consciousness yang kini makin terasa tak ada karena kita makin tak menyadarinya. Kapitalisme akan sangat luar biasa sulit dihancurkan, tetapi kita tidak boleh berhenti melawannya untuk menghapuskan keterpurukan kemanusiaan atas sumber daya. Jangan lagi samakan kebahagiaan dengan kesejahteraan angka.

Langkah pertama yang bisa kita ambil yaitu menentukan kembali tujuan kita; kebahagiaan. Carilah sendiri standarisasi kebahagiaan Anda. Jalanilah jalannya, selama jalan itu tidak memotong jalan orang lain yang hendak mencapai kebahagiaannya. Happiness is not -glitter as- gold, you can see it or you can’t see it. You may have it in an empty air, you may have it in top of mountain, you and I may have it in any condition you want it.

Mar 06

Beautiful Mind

Mar 03

Meme…

*tulisan ini berisi sedikit cerita saya dan sedikit teori dari sumber yang juga cuma sedikit, perlu banyak tambahan referensi dan masukan lagi*

Berawal ketika saya menonton video di Youtube mengenai otak, spiritualitas dan altruisme. Dalam diskusi tersebut tampil sebagai pembicara, dengan background yang berbeda, yaitu seorang neuroscientist sekaligus neurosurgeon (yang bisa dikatakan hampir tak percaya Tuhan) Ryu Hasan dan Jalaluddin Rakhmat, seorang pakar komunikasi sekaligus seorang Syi’ah. Saya tidak akan membahas tentang kesalingbertolakbelakangan keduanya tentang spiritualitas -Dr. Ryu mengatakan bahwa manusia butuh spiritualitas untuk bertahan hidup, natural selection sekali, sedangkan Prof. Jalal atau Kang Jalal melihat bahwa Tuhan ada pun kita tak ada.

Yang saya ingin kemukakan disini yaitu pada satu kesempatan dalam diskusi tersebut, Kang Jalal sempat menjelaskan tentang The Selfish Gene-nya Richard Dawkins. Dalam bukunya itu, Dawkins berbicara sebenarnya evolusi itu berasal dari gen. Dan gen bisa sangat menjadi altruisme, yang hanyalah salah satu kendaraan bagi gen yang ternyata memiliki sifat egois. Bagaimana bisa? Altruis dan egois kan definitif berbeda? Dawkins menjelaskan, singkat dan kurang lebihnya, seseorang yang altruis bertindak demikian karena adanya kepentingan dan kesamaan gen untuk tetap bertahan. Contohnya saja seorang ibu yang menyayangi anaknya, seorang yang iba melihat orang lain kelapan dan sebagainya. Namun ada yang perlu kita garis bawahi, masih dalam buku tersebut, yaitu konsep meme. Konsep meme (dibaca: mim) sangat mengejutkan saya, sangat ‘sosial’ sekali. Tidak terlalu eksakta walaupun yang mengemukakannya adalah seorang zoologist evolusioner.

Di kuliah Filsafat Ilmu Sosial kemarin, dosen saya, Herdito Sandi menjelaskan tentang alriciality. Sebuah terminologi yang ‘dipinjam’ dari para ornitolog. Altriciality adalah masa sementara bagi seekor anak burung untuk bergantung pada induknya sampai dia bisa terbang dan mencari makan sendiri. Hal ini ada kesamaannya dengan manusia (yang klasifikasinya masuk ke dalam kingdom animalia, primata), dia menjelaskan, manusia lahir sebagai prematur. Manusia lahir saat mereka belum siap jadi manusia. Kasarnya kita bandingan dengan ikan yang begitu lahir bisa langsung berenang, bandingkan dengan kuda yang bisa berdiri kurang lebih satu jam saja. Manusia? Butuh tahunan, itu pun ada syarat-syaratnya. Sehingga bagi manusia, harus adanya enkulturasi, mengenalkan basic skills seperti makan, minum, berpakaian, berjalan dll, sampai  penanaman nilai, norma, budaya dan sebagainya atau dalam sosiologi disebut sosialisasi. Masa enkulturasi oleh orang tua (sosialisasi primer) ini masuk ke masa altrisialitas.

Apa hubungannya dengan konsep meme Dawkins? Di sebuah artikel yang saya baca, meme adalah “basic unit of cultural transmission”. Pernahkan anda bertanya, jika evolusi tubuh kita disebabkan oleh gen, lalu bagaimana dengan perubahan budaya? Di sinilah letak keunikan konsep meme. Dawkins memaparkan bahwa meme bentuknya bisa ide, nada, baju, mimik muka, arsitektur, meja, buku. Sederhananya meme adalah bentuk segala hasil budaya. 

Bayangkan manusia Indonesia sebelum kala Glasial Wurm, masa es terakhir sekitar sejuta tahun yang lalu, sekitar lima ratus tahun lalu Pithecantropus Erectus kemudian berevolusi menjadi, menurut Teuku Jacob dan masih jadi perdebatan (Koentjaraningrat 1979:5), Pithecantropus Soloensis dan berevolusi lagi menjadi manusia modern. Singkatnya demikian. Nah itu kan evolusi ‘fisik’, bagaimana mereka bisa menemukan api, kemudian membuat alat Bascon-Hoabinh yang menyebar dari Cina samapi ke Papua, kemudian mengelompok dan tinggal di abris sous roches (tempat berlindung di bawah karang), kemudian meninggalkan kjokkenmoddiger, kemudian berladang slash and burn, kemudian membuat divison of labor, kemudian membangun kota, kebudayaan, peradaban dan seperti sekarang?

Dawkins menjawab dengan konsep meme. Meme bagaikan virus, menyebar, loncat dari otak satu ke otak lainnya. Jikalau gen menyebar lewat penyatuan sperma dengan ovum, meme menyebar lewat kontak sosial. Homo Wajakensis melestarikan kapak lonjong dengan cara mengkomunikasikannya kepada keturunannya, ilmuan menyebarkan penemuannya dengan menulis di jurnal ilmiah, amarah seseorang diketahui orang lain lewat akun twitternya, style baju yang ‘pas’ untuk musim dingin tahun sekarang ditampilkan lewat fashion show di Milan, dan lain-lain, merupakan contoh penyebaran meme. Berterimakasihlah pada nenek moyang kita yang membuat ‘memeplex’ (kumpulan meme) berupa bahasa sehingga meme kini menyebar dengan mudahnya. Ditambah dengan perkembangan teknologi. Meme semakin serupa dengan virus. Meme, kini, tidak mengenal sekat geografis. Maka bukan mustahil kalau nanti ada teori globalisasi meme, setelah teori sistem dunia, teori globalisasi kapitalisme, teori masyarakat global dan teori globalisasi lainnya.

Setelah mengalami enkulturasi, yang tak lain merupakan penanaman rangkaian meme, dari oran tua kita, kita yang sudah sedikit-sedikit bisa hidup sendiri kembali terpengaruhi oleh meme-meme di sekitar kita. Meme sifatnya dominan, konsepnya sama seperti gen terhadap kita. Susan Blackmore dalam buku The Meme Machine, di situs straightdope.com ditulis “I’m not an independent actor, just an assemblage of memes (a “selfplex”). Things happen not because “I” make choices but because of interaction between the memes of which this “I” is composed.” Ekstremnya begitu. Tak adanya free will bagi manusia “If we accept the idea of an unbreakable chain of cause and effect at the molecular level and take the materialist view that our brains are just complicated arrangements of molecules, there doesn’t seem to be any room for free will.”, semua telah diatur oleh gen dan meme. Mirip seperti pandangan para pemikir sosiolog struktural-fungsional, kecuali porsi free will-nya. Absolute cultural-determinism.

Pendapat saya? Di satu pihak saya sangat berterima kasih pada Dawkins karena meletakkan beberapa batu untuk membangun jembatan antara eksakta dan ilmu sosial setelah dalam ilmu geografi juga kita telah memiliki jembatan tersebut. Kesosialan atau sociality manusia sangat menarik untuk terus dan terus diteliti. Kajian ilmu sosial ini tak akan pernah habisnya selama manusia masih ada. Semakin lama semakin banyak konsep, teori, hukum dan asumsi dasar yang memperkaya manusia.

Tulisan ini saya akhiri dengan anjuran bagi kita semua untuk mengadakan kajian literatur lebih lanjut dan penelitian terus-menerus mengenai gen, meme, ilmu sosial dan berbagai kemungkinan keterkaitan satu sama lainnya. Semoga Tuhan selalu bersama kita :)

PS: Mungkin saja saya sedang menularkan meme kepada Anda lewat tulisan ini hehe

Jan 30

Syi’ah, Terus Kenapa?

Saya: Te, ini bagus geura video tentang spiritualitas ama otak.

…..Tante saya sempat menghampiri hemdak melihat….

Saya: Ada Jalaludin Rakhmatnya

Tante: Ah Jalaludin Rakhmat mah orang…

Saya: Syi’ah?

Tante: Iya

……Tante saya kemudian pergi.

wallahu a’lam

Jan 27

Berak dan Ibadah

Suatu malam saya berbincang dengan paman, kesana kemari. Kami buka perbincangan mengenai Gus Dur (semoga Allah Memberikan terbaik untuknya), kemudian bergeser ke olahraga, pembangunan negara dan yang terkahir, agama.

Kami sepakat, misi yang seorang manusia miliki hanya satu yaitu ibadah. Tak kurang, tak lebih. Kemudian kami sedikit elaborasi, apa saja yang disebut ibadah dalam agama kami ini. Ternyata ibadah tak hanya solat, shaum, zakat, nai haji dan sebagainya yang sejenis yang secara tekstual Allah perintahkan. Namun segalanya, selama tidak melanggar larangan Allah, bisa jadi ibadah. Bagaimana caranya? Niatkan! Sering kita dengar hadist berikut:“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan….” (HR; Bukhari & Muslim). Maka jelaslah bahwa jika kita melakukan suatu hal, niatkanlah sebagai ibadah hanya karena Allah. Saat kita membaca novel, menulis puisi, pergi menjemput seseorang, makan, minum, internetan, dan apapun asalkan tidak bertolak belakang dengan apa yang diperbolehkan oleh Allah, niatkanlah ibadah agar kita diganjar atas perbuatan itu sebagai ibadah sehingga tujuan kita ada di muka bumi pun kita penuhi. 

Namun ingat, niat ibadahnya harus semata-mata karena Allah. Jangan karena ingin dilihat orang. Mungkin hal itu mudah untuk dihindari bagi beberapa orang, tetapi bagaimana niat ibadah yanghanya untuk menggugurkan kewajiban saja? Pada umumnya kita menjalankan ibadah hanya untuk menggugurkan kewajiban atau hanya untuk menghindari dosa saja. Niat ini kurang baik adanya, sesungguhnya Allah tidak membutuhkan ibadah kita sedikitpun, bahkan kalaupun semua manusia membangkang dan tak menyembah Allah, hal itu tidak berpengaruh sedikitpun kepadaNya. Karena kita yang butuh ibadah kita sendiri.

Niat lainnya yang menurut saya benar tetapi kurang baik yaitu niat ibadah karena pahala atau ganjarannya. Bukan salah, hanya kurang bijak. Pahala merupakan ganjaran, reward bagi kita apabila kita ibadah tentunya dengan prasyarat tertentu yang telah Allah tentukan, seperti benar tatacaranya dan yang terpenting keikhlasannya. Tak ada jaminan ibadah kita diterima oleh Allah, karena Allah hanya menerima yang terbaik dari hambaNya jadi belum tentu juga dengan melakukan ibadah tersebut kita mendapat ganjaran yang (seakan-akan) menjadi goal kita.

Lalu niat ibadah seperti apa yang baik? Niat ibadah hanya karena Allah. Karena kita cinta kepadaNya. Dengan kecintaan itu maka kesungguhan dan keikhlasan akan lebih mudah timbul. Bagaimana sesungguhnya ibadah yang ikhlas itu? Si paman kemudian bercerita perbincangannya dengan seorang kenalannya. Dia dengan mudah menganalogikan sesuatu yang kita lakukan dengan ikhlas diantaranya yaitu (maaf) berak, atau BAB. 

Penganalogian ini memang kesannya kurang baik, tetapi sangat masuk akal dan mudah dimengerti. Saya, jujur saja, lebih merasa ikhlas untuk BAB daripada solat isya. Saat mules, secepat kilat saya mencari WC untuk ‘menjalankan keharusan saya’ dengan ikhlas. Dulu, semasa saya masih merokok, saya BAB harus sambil merokok karena merasa lebih nikmat. Bahkan ada beberapa orang yang saya kenal bahwa dirinya harus berak setiap hari. Artinya dia telah meletakan aktivitas berak ini (yang memang secara ilmiah sangat diwajibkan) di tataran atas dalam daftar kegiatannya sehari-hari.

Nah bagaimana dengan ibadah kita? Sudahkah kita menunaikannya dengan keikhlasan (paling tidak) setingkat berak saja? Sudahkah kita mengutamakan solat saja contohnya yang jelas-jelas wajib? Ketika adzan, sudahkah kita bergegas? Sudahkah kita menikmati solat kita? Sudahkah kita menggunakan atribut yang kita nilai sebagai pernghargaan lebih terhadap ibadah yang kita lakukan karena kita tahu siapa yang kita tuju di ibadah tersebut?

Mungkin bagi kita yang masih senantiasa belajar, ibadah bagi kita hanya sebatas berak. Bagi mereka di atas kita, ibadah akan seperti makan+minum. Bagi orang-orang tertentu ibadah akan seperti bernafas. Semoga kita mencapai taraf tersebut. Amin

Wallahu a’lam bissawab