Text
Syi’ah, Terus Kenapa?

Saya: Te, ini bagus geura video tentang spiritualitas ama otak.

…..Tante saya sempat menghampiri hemdak melihat….

Saya: Ada Jalaludin Rakhmatnya

Tante: Ah Jalaludin Rakhmat mah orang…

Saya: Syi’ah?

Tante: Iya

……Tante saya kemudian pergi.

  • Kemudian saya heran mengapa perbedaan Sunni atau Syi’ah atau apapun itu bisa mencegah kita mendapatkan pengetahuan??? Kenapa ini (masih) terjadi? Berapa buku literatur pengetahuan karya orang non muslim yang kita baca? Lho kok masa sesama Islam saling menutupi? Ini hanya contoh kasus yang dengan mudah dan tak disangka-sangka kita temui di kehidupan sehari-hari. Aneh memang, perlu kita renungkan kembali cara kita beragama. Saya percaya aqidah saya mengajarkan untuk berakhlaq baik bahkan kepada mereka yang tak se-aqidah dengan saya. Secara sosiologis, ini merupakan ikatan primordial yang kunjung jadi entnosentris dan fanatis -yang sebenarnya merusak otak berdasarkan penelitian para neuroscientist bisa dibaca dalam buku ‘How God Changes Your Brain’

wallahu a’lam

03:33 pm, BY sargani

Text
Berak dan Ibadah

Suatu malam saya berbincang dengan paman, kesana kemari. Kami buka perbincangan mengenai Gus Dur (semoga Allah Memberikan terbaik untuknya), kemudian bergeser ke olahraga, pembangunan negara dan yang terkahir, agama.

Kami sepakat, misi yang seorang manusia miliki hanya satu yaitu ibadah. Tak kurang, tak lebih. Kemudian kami sedikit elaborasi, apa saja yang disebut ibadah dalam agama kami ini. Ternyata ibadah tak hanya solat, shaum, zakat, nai haji dan sebagainya yang sejenis yang secara tekstual Allah perintahkan. Namun segalanya, selama tidak melanggar larangan Allah, bisa jadi ibadah. Bagaimana caranya? Niatkan! Sering kita dengar hadist berikut:“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan….” (HR; Bukhari & Muslim). Maka jelaslah bahwa jika kita melakukan suatu hal, niatkanlah sebagai ibadah hanya karena Allah. Saat kita membaca novel, menulis puisi, pergi menjemput seseorang, makan, minum, internetan, dan apapun asalkan tidak bertolak belakang dengan apa yang diperbolehkan oleh Allah, niatkanlah ibadah agar kita diganjar atas perbuatan itu sebagai ibadah sehingga tujuan kita ada di muka bumi pun kita penuhi. 

Namun ingat, niat ibadahnya harus semata-mata karena Allah. Jangan karena ingin dilihat orang. Mungkin hal itu mudah untuk dihindari bagi beberapa orang, tetapi bagaimana niat ibadah yanghanya untuk menggugurkan kewajiban saja? Pada umumnya kita menjalankan ibadah hanya untuk menggugurkan kewajiban atau hanya untuk menghindari dosa saja. Niat ini kurang baik adanya, sesungguhnya Allah tidak membutuhkan ibadah kita sedikitpun, bahkan kalaupun semua manusia membangkang dan tak menyembah Allah, hal itu tidak berpengaruh sedikitpun kepadaNya. Karena kita yang butuh ibadah kita sendiri.

Niat lainnya yang menurut saya benar tetapi kurang baik yaitu niat ibadah karena pahala atau ganjarannya. Bukan salah, hanya kurang bijak. Pahala merupakan ganjaran, reward bagi kita apabila kita ibadah tentunya dengan prasyarat tertentu yang telah Allah tentukan, seperti benar tatacaranya dan yang terpenting keikhlasannya. Tak ada jaminan ibadah kita diterima oleh Allah, karena Allah hanya menerima yang terbaik dari hambaNya jadi belum tentu juga dengan melakukan ibadah tersebut kita mendapat ganjaran yang (seakan-akan) menjadi goal kita.

Lalu niat ibadah seperti apa yang baik? Niat ibadah hanya karena Allah. Karena kita cinta kepadaNya. Dengan kecintaan itu maka kesungguhan dan keikhlasan akan lebih mudah timbul. Bagaimana sesungguhnya ibadah yang ikhlas itu? Si paman kemudian bercerita perbincangannya dengan seorang kenalannya. Dia dengan mudah menganalogikan sesuatu yang kita lakukan dengan ikhlas diantaranya yaitu (maaf) berak, atau BAB. 

Penganalogian ini memang kesannya kurang baik, tetapi sangat masuk akal dan mudah dimengerti. Saya, jujur saja, lebih merasa ikhlas untuk BAB daripada solat isya. Saat mules, secepat kilat saya mencari WC untuk ‘menjalankan keharusan saya’ dengan ikhlas. Dulu, semasa saya masih merokok, saya BAB harus sambil merokok karena merasa lebih nikmat. Bahkan ada beberapa orang yang saya kenal bahwa dirinya harus berak setiap hari. Artinya dia telah meletakan aktivitas berak ini (yang memang secara ilmiah sangat diwajibkan) di tataran atas dalam daftar kegiatannya sehari-hari.

Nah bagaimana dengan ibadah kita? Sudahkah kita menunaikannya dengan keikhlasan (paling tidak) setingkat berak saja? Sudahkah kita mengutamakan solat saja contohnya yang jelas-jelas wajib? Ketika adzan, sudahkah kita bergegas? Sudahkah kita menikmati solat kita? Sudahkah kita menggunakan atribut yang kita nilai sebagai pernghargaan lebih terhadap ibadah yang kita lakukan karena kita tahu siapa yang kita tuju di ibadah tersebut?

Mungkin bagi kita yang masih senantiasa belajar, ibadah bagi kita hanya sebatas berak. Bagi mereka di atas kita, ibadah akan seperti makan+minum. Bagi orang-orang tertentu ibadah akan seperti bernafas. Semoga kita mencapai taraf tersebut. Amin

Wallahu a’lam bissawab

11:41 pm, BY sargani

Text
BEM dan Gender

Pas mata kuliah Pengantar Ilmu Politik, Eva, teman saya, duduk sebelah saya. Secara tidak sengaja saya melihat ada pin salah satu kandidat ketua BEM Universitas saya. Ada dua calon ketua BEM di Universitas saya, no 1 seorang pria dan yang kedua seorang wanita.

Kebetulan pin yang menempel di tas Eva itu mengacu ke kandidat pria. Saya pun bertanya kenapa ia lebih memilih seorang pria padahal dia sendiri seorang wanita. Jawab dia simple, “Wanita itu lebih ke perasaan …” Sekejap saya langsung ingat dengan materi sosiologi gender.

Banyak teori mengenai gender ini dan asal muasalnya. Sekilas akan saya jelaskan bagi kita yang masih awam dengan perbedaan antara konsep jenis dan gender. “Sex refers to the biological difference between men and women, the result of difference in the chromosomes of the embryo” (Sinclair, 1995:117). Sedangkan “gender refers to personal traits and social positions that member of a society attach to being female or male” (Macionis, 2008:330). Jadi jelaslah jenis kelamin dan gender itu berbeda. Jenis kelamin mengacu pada perbedaan yang bersifat biologis sedangkan gender mengacu pada tingkah atau ciri dan posisi sosial seseorang sebagai wanita atau pria. (Kata ‘men’ dan ‘women’ dalam bahasa Inggris lebih mengacu pada jenis kelamin, sedangkan ‘male’ dan ‘female’ lebih ke gender).

Gender menghasilkan stratifikasi dan fungsi yang berbeda dan sifat yang berbeda antara pria (maskulin) dan wanita (feminin). Hal ini kita lihat di kebanyakan negara di dunia walaupun ada beberapa penelitian yang menunjukan tak selamanya pria itu maskulin dan tak selamanya pula wanita itu feminin.

Apabila kita melihat sifatnya, gender tidaklah bersifat biologis tetapi dikonstruksikan secara sosial. Disebut gender socialization. Seperti halnya sosialisasi biasa, sosialisasi genderpun pertama dan yang utama terjadi di keluarga. Keluarga memberikan sorang bayi pelajaran mengenai gender dan pemahaman mengenai peran gendernya tersebut. Karena adanya perbedaan sifat feminin dan maskulin ini, maka terdapat pula pola asuh yang berbeda dalam membesarkan anak laki-laki dan perempuan. Ada sebuah sebuah penelitian yang menunjukan bahwa cara mengasuh perempuan lebih lembut, sering dipeluk, dan elusan-elusan dari ibu atau ayahnya. Sedangkan membesarkan anak laki-laki biasanya lebih kasar dengan mengangkat mereka tinggi-tinggi ke udara atau memaikan mereka di lutut orangtuanya.

Hal inilah yang mungkin secara tidak sadar menjadi alasan mengapa Eva berkata seperti di atas. Namun, setelah saya pikirkan, apakah adil jika seorang pemimpin hanya berdasarkan pada sisi ke-maskulin-annya saja? Apakah kita tidak butuh pemimpin yang juga mempunyai sisi sensitifitas tinggi layaknya seorang wanita?

Tentu saja bagi kaum feminis saya akan dicecar habis-habisan kalau saja saya menjawab ‘tidak’. Kita lihat Uni Soviet masa pada masa Stalin. Tak heran mengapa ia disebut tangan besi ya karena seseorang yang hatinya lembut akan sangat merasa sangat sulit atau mungkin tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang Stalin lakukan di kamp konsentrasi Karlag. Itu juga yang menjadi alasan kenapa ada kuota anggota legislatif yang harus wanita. Dan jumlahnya di berbagai negara berbeda, di kebanyakan negara Skandinavia jumlah wanita dalam parlemen sangat besar jika dibandingkan dengan negara Indonesia. Intinya kita butuh pemimpin yang juga memiliki sisi feminin terlepas dia wanita atau pria.

Apabila kita berkesimpulan seperti di atas, maka kita menyetujui jikalau dikatakan bahwa diperlukan pria yang memiliki sisi feminin yang cukup atau diperlukan wanita yang memiliki sisi maskulin yang cukup. Terlepas dari indikator maskulin dan feminin yang berbeda di berbagai masyarakat. Yang pasti, maskulin tidak dimiliki kebanyakan wanita di masyarakat kita dan sebaliknya.

Dari uraian di atas perlu elaborasi yang lebih lanjut, seperti apa saja yang menjadi ukuran agar seorang pria bisa dikatakan memiliki sisi feminin yang cukup agar mereka mengerti juga layaknya (meskipun tak sepenuhnya) seperti wanita dan mereka memimpin dengan ‘hati’ wanita. Pertanyaan ini saya juga ajukan kepada Eva yang kemudian ia menjawab “Dari penilaian orang dan pengalaman yang saya lihat….” Kalimatnya berkesan sderhana, tetapi jika kita pikirkan lebih lanjut maka ada nilai yang tersirat dari perkataannya tersebut. Untuk menilai seseorang memilki sisi feminin yang cukup untuk memimipin atau dengan kata lain untuk mengetahui apakah seseorang baik jika dijadikan pemimpin, maka kita harus mengetahui berbagai informasi mengenai si calon juga berdasarkan peniaian kita sendiri yang rasional.

Seperti itulah seharusnya kita dalam memilih seorang pemimpin. Kita harus tahu benar siapa yang kita percayai untuk memimpin kita. Jadikanlah suara kita mahal, hanya bagi orang-orang yang memang pantas mendapatkan suara kita. Tentu saja kita akan mengetahui seseorang pantas atau tidak jadi pemimpin jika kita terlebih dahulu mencari informasi dan kemudian menentukannya.

12:31 am, BY sargani

Text
Terdengar Seperti Keputusasaan

Herbert Blumer bilang, masyarakat harus dilihat sebagai aksi-aksi manusia. Sementara kaum fungsionalis bilang bahwa ya manusia itu hanya sebuah hasil karya masyarakat. Terlepas dari mana kita mau lihat ‘masyarakat’, yang mau saya kemukakan di sini ialah masyarakat sebagai kepalsuan yang maha.

Banyak teori yang coba membuktikan bahwa manusia bertindak sebagaimana yang di harapkan orang lain agar dia bertindak, ada pula yang bilang dunia ya memang hanyalah sebuah panggung sandiwara di mana seseorang akan bertindak beda apabila ia sedang ada di panggung dengan saat dia ada di belakang panggung. Sedangkan dalam perspektif yang lebih jauh, masyarakat bernorma karena menahan agar individu di dalamnya stabil, langgeng dan bergeraknya secara perlahan. Para ekonomi-determinis bilang (hampir) segalanya berlatar belakangkan ekonomi, urursan agama juga tak terlekkan.

Dari mana semua kepalsuan ini asalnya? Belum diketahui secara pasti. Mungkin kalau kita mau berpikir lebih ‘nakal’, kita akan menemukan ada beberapa pihak yang justru berusaha untuk menyembunyikan, melestarikan, dan mencegah berubahnya segala kepalsuan ini.

Mari ambil contoh, apa saya pria? Anda wanita? Oh ya, maafkan saya. Maksud saya, terlepas dari faktor biologis anda yang mempunyai kemampuan-kemampuan khusus sehingga anda dibedakan dengan manusia lain yang mempunyai kemempuan-kemampuan khusus yang berbeda dengan anda secara alamiah juga; singkat kata apakah anda berjenis kelamin pria atau wanita? Jawabannya mudah hampir untuk seluruh manusia di muka bumi ini.

Namun apabila saya bertanya seperti ini, apakah masyarakat memasukkan anda kedalam satu kelompok tertentu berdasarkan apa yang mereka harapkan berdasarkan jenis kelamin anda; apakah anda seorang yang feminim atau maskulin? Bukan pertanyaan mudah bagi sebagian dari kita, dan jumlah mereka terus meningkat. Dari sini kita bertanya, tak kurang kejamkah masyarakat hingga mengurusi urusan manusia sampai sebegitu jauhnya?

Contoh lain yang saya ingin kedepankan yaitu, cita-cita seseorang mungkin saja akan lebih mudah ataupun lebih sulit untuk dicapai bergantung di mana (di negara) mana dia tinggal. Sekali lagi, saya bisa menyimpulkan bahwa cita-cita seseorangpun merupakan buah karya (kekejaman) masyarakat. Lebih mudahnya perkenankan saya mengambil contoh dari suku-suku pedalaman. Apabila saya bertanya kepada seorang Badui Dalam, apakah mereka ingin untuk menapakkan kaki mereka di atas Bulan? Kemungkinan besar jawaban mereka ‘tidak’. Mungkin saja mereka mempertanyakan apa sebenarnya bulan itu, kenapa ada di atas san lain-lain. Namun maaf sekali, jawaban mereka akan dibatasi oleh norma yang berlaku. Mungkin Puun (pemimpin spiritual suku Badui) akan memberikan jawaban seperti “itu tempat tinggal Dewa Langit, taboo untuk mempertanyakannya.” Selesai urusan. Jangan tanya apakah kalian pernah ingin pergi dari tempat ini mengarungi laut dan mendirikan rumah di atas gunung. Jangan tanyakan pula, apakah kalian ingin mempunyai saham Apple Inc. Kehidupan mereka cukup dengan seperti mereka keseharian. Itu masyarakat mereka, bukan hanya menghambat terwujudnya mimpi para anggotanya, contoh di atas lebih berat ‘mengurung’ masyarakatnya untuk tidak bercita-cita yang tidak-tidak. Tentu terlepas dari indikator rasa ‘cukup’ mereka. Maka patutkah kita bertanya kemauan manusia itu tak terbatas jiak kita mengacu pada contoh di atas? Seperti kata penyair zaman dinasti Song, Su Shi “Jika engkau mengerti arti cukup, engkau kaya.”

Masyarakat ini tidak adil, sangat kejam. Dengan penyatuan dunia dalam fenomena globalisasi, dunia dipaksa menjadi satu kesatuan sistem. Dalam sistem itu terdapat sub-subsistem yang dapat dengan mudah ditukarkan dengan atau tanpa maksud apapun tapi tentu membawa pengaruh yang tidak diketahui siapapun kecuali mungkin pihak yang memulai pertukaran subsistem itu. Ambil contoh, budaya (mengacu pada definisi menurut Carol Ember) yang kita dapat sekarang ini sudah bukan lagi budaya Indonesia dalam arti teritorial lagi -karena budaya Indonesia pun sejak zaman dahulu telah bercampur aduk dengan kebudayaan dari luar. Makin kabur budaya apa yang tertanam dalam benak kita masing-masing ini, secara sadar maupun tidak. Masyarakat dunia tidak (mau peduli dan) melihat banyaknya perbedaan yang masih elementer di tiap negara untuk digeneralisasikan ke dalam tatanan sistem dunia yang menyatu. 

Secara tidak sadar banyak dari kita yang ingin seperti orang (supaya mudah saya sebut saja) Barat. Kebudayaan mereka kita serap. Seperti kata Ember, budaya ada 3, ide, aksi dan materi. Ide budaya mereka kita telah dapat walaupun tafsir kita mengenai ide budaya mereka masih dipertanyakan. Perilaku mereka kita imitasi, terlepas dari seberapa kompetennya (faktor alam dan sosial) kita untuk menerapkannya di negara yang bukan dari tempat budaya itu berasal. Materil kita buat tiruan supaya mengkomplitkan jalan kita untuk jadi ‘mereka’. Beberapa dari kita ada yang merasa telah berhasil jadi ‘mereka’, tapi yang jadi masalah adalah beberapa dari kita yang tidak pernah berhasil untuk menjadi ‘mereka’. Mereka yang tidak berhasil adalah mereka yang secara tidak sadar memiliki cita-cita yang dihasilkan dari nilai-nilai yang ia dapat dari globalisasi. Tertanam dalam dirinya cita-cita itu begitu dalam. Menjadi ‘budaya’ dirinya. Namun ia tak melihat bahwa kondisi (alam dan sosial) di tempat dia tinggal sangat jauh berbeda dengan tempat asal nilai yang kini dia anut itu.

Agar mudah, tanpa maksud mendiskreditkan siapapun, mari kita ambil contoh musik atau fesyen. Blues datang dari Amerika sebagai bentuk curahan hati para kaum kulit hitam yang saat itu masih ‘mudah’ dinomorduakan bahkan direnggut nyawanya. Lama kelamaan Eric Clapton juga memaikan musik Blues ini padahal dia seorang putih. Terbukti ide bisa mengalami distorsi. Singkat cerita musik bukan lagi sekedar seni, tetapi juga menjadi industri. Kapitalis untuk lebih kasarnya. Dibantu globalisasi mereka menyerbu ke kita. Lahirlah Blues di kita, kita anut. Kita lupa kata Gramsci, hegemoni kebudayaan menyebar ya cuma hanya untuk melanggengkan hegemoni negara yang menyebarkan budaya itu agar mereka untung. Mudahnya kita lihat kebenaran teori Gramsci ini lewat kecenderungan anak kecil kita (anak kecil dinilai sebagai manusia yang mudah dijadikan contoh karena umur mereka yang masih muda sehingga belum kompleks) mendengarkan lagu K-Pop dibandingkan dengan keroncong. Terlihat sederhana, and taken for granted by us. Namun lihat hasilnya, komunitas keroncong tak sebanyak dulu lagi, pemusiknya pun kebanyakan berusia lanjut, sulit mencari penerus, musik mereka tak lagi ‘merdu’. Sementara industri musik Korea makin kipas-kipas menikmati keuntungan dari happening-nya musik mereka di negara kita tercinta ini.

Itu hanya contoh yang mudah kita cerna. Bagaimana dengan ideologi dan lainnya, yang juga termasuk budaya? Relatif sama.

Terakhir, sebagai penutup, saya ingin mengajak Anda berimajinasi. Bagaimana kita seandainya kita seorang Badui? Masihkah kita akan dipusingkan dengan ketidakpastian pasar modal, nilai mata uang dan harga minyak? Akankah kita lebih mudah merasa cukup dengan yang Sang Khalik Berikan?

Sebaliknya, akankah kita hidup lebih mudah di sebuah welfare state yang mengadopsi sistem sosial demokratis? Akankah ketidakpastian-ketidakpastian yang di masa depan menimpa kita lebih mudah terjawab?

Kalau masyarakat ada di luar jangkauan kita dan kita pasrah akan hal itu, selanjutnya siapa yang jadi korban? Apa kita hasil dari masyarakat atau lebih tepat disebut sebagai korban?

12:04 am, BY sargani

photoset

the beauty

02:08 pm, BY sargani

Text
Komunisme dari DDIP Miriam Budiadjo

Komunisme lahir pada awal abad ke-19 dari otak seorang Karl Marx. Pada masanya, perindustrian di Jerman tengah berkembang. Sementara keadaan sosial buruh sangatlah menyedihkan. Buruh dibayar sangat murah dengan jam kerja yang sangat panjang dan adanya penyalahgunaan tenaga kerja wanita dan anak-anak sebagai tenaga kerja murah. Hal ini membuat Marx menyusun sebuah teori yang ia beri nama sebagai scientific socialism dengan maksud membedakan dengan Sosialis Utopis yang diprakarsai Robert Owen, Saint Simon dan Fourier.

            Sosialisme Ilmiah yang disusun Marx mencoba memasukan hukum-hukum ilmiah yang bisa diaplikasikan untuk memperbaiki keadaan Jerman saat itu. Salah satu hukum ilmiah yang Marx masukan yaitu teori dialektis yang dicetuskan oleh Hegel, seorang filsuf idealisme. Hegel berbicara bahwa sebuah kebenaran yang diterima manusia hanya sebagian dari keseluruhan kebenaran itu sendiri. Kebenaran yang menyeluruh akan manusia dapatkan apabila mereka melakukan proses dialektis. Sebuah proses di mana sebuah thesis bertemu antithesis sehingga menghasilkan synthesis yang kemudian akan menjadi thesis yang baru dan begitu seterusnya. Puncak proses dialektis telah tercapai saat manusia menemukan Ide Mutlak dan sekaligus mengakhiri gerak dialektis. Teori Hegel ini diadopsi Marx untuk membuat teori baru yang disebut Materialisme Dialektis dan Dialektis Historis.

            Materialisme dialektis berbicara proses dialektis dalam dunia kebendaan, bukan hanya di alam pikiran manusia saja seperti yang dikatakan Hegel. Menurut Marx, sebuah fenomena sosial memiliki bibit-bibit kontradiksi intern yang berperan sebagai antithesis dalam gerak dialektis. Kemudian akan menghasilkan sebuah negasi hasil pergumulan fenomena tadi dan kontradiksinya.

            Materialisme historis berasal dari pokok-pokok materialisme dialektis yang Marx gunakan dalam menganalisa masyarakat. Dan karena Marx meninjau sejarah dan perubahan masyarakat dari sisi ekonomi, maka teori ini sering disebut juga “analisa ekonomi terhadap sejarah”. Sebuah perubahan mula-mula terjadi di basis masyarakat yang bersifat ekonomis. Kemudian akan menggetarkan struktur atasnya yang berupa kebudayaan. Marx melihat bahwa ada gerak dialektis yang nyata terjadi dalam masyrakat, khususnya di Eropa Barat tempat dia berada. Pada zaman dahulu, masyarakat berbentuk komunal primitive yaitu sebuah bentuk masyarakat yang tidak mengenal kelas dan tidak mengenal milik pribadi. Selanjutnya masyarakat itu berubah menjadi masyarakat yang mengenal kepemilikan pribadi dan pembagian kerja. Sejak adanya kelas itulah gerak dialektis dimulai. Pertentangan antar kelas menghasilkan sebuah perubahan ke bentuk masyarakat baru. Seperti contohnya konflik budak dan pemiliknya menghasilkan masyarakat feodal yang nantinya menimbulkan konflik antara penggarap tanah dan para pemilik tanah yang menghasilkan masyarakat kapital. Masyarakat kapital ini mengandung bibit-bibit konflik antara kaum pemilik modal dan buruh. Marx yakin bahwa gerak dialektis akan berakhir saat kaum buruh menang dan terciptalah tatanan masyarakat komunis.

            Dalam pertarungannya, masyarakat atau yang di sini lebih tepat sebagai kaum buruh, diperkenankan memakai cara-cara revolusioner termasuk kekerasan untuk meruntuhkan semua unsur kapitalis dalam masyarakat. Meskipun yang dituju oleh Marx ialah sebuah masyarakat tanpa kelas yang tak mengenal kepemilikan pribadi dan tiadanya eksploitasi dan paksaan dari pihak manapun.

Marx selalu berkata masyarakat komunis, bukan negara komunis. Itu disebabkan menurut Marx negara hanyalah sebagai alat dalam masa transisi menuju masyarakat komunis setelah dihancurkannya kapitalisme. Negara sebagai diktator revolusioner kaum proletar untuk melancarkan jalannya menuju masyarakat komunis. Dalam tahap transisi ini terjadi demokrasi yang berasal dari kaum mayoritas yaitu rakyat terhadap kaum penindas atau kaum kapitalis dan membuat kaum tersebut hilang dari demokrasi. Sedangkan demokrasi di negara kapitalis, menurut Lenin, hanyalah bentuk demokrasi dari kaum minoritas yang dominan terhadap kaum mayoritas yang tidak memiliki hak demokratis. Selama kaum proletar masih membutuhkan negara, maka negara masih ada sebagai alat tetapi setelah tercapainya masyarakat komunis, negara akan lenyap dengan sendirnya. Lenin juga berkata bahwa negara akan lenyap manakala masyarakat berkerja sesuai kemampuannya dan menerima sesuai kebutuhannya.

Marxisme ditafsirkan oleh banyak orang yang menghasilkan pandangan yang berbeda-beda. Namun yang unik adalah ajaran ini pertama kali diusahakan untuk di terapkan di Eropa Timur tepatnya di Uni Soviet dengan pemimpin mereka yaitu Lenin. Marxisme-Leninisme atau komunisme ini terus dilajutkan oleh para pemimpin Uni Soviet dengan berbagai perubahan yang mereka lakukan. Tercatat Stalin, Kruschev, memiliki penafsiran dan penambahan di berbagai aspek dalam menjalankan komunisme. Stalin dikenal bertangan besi dan tak segan berperang dengan siapapun yang menghalangi jalannya. Sedangkan Kruscev berbanding terbalik, teorinya sering disebut Neo Revision karena beranggapan bahwa perang bisa dihindari dan Uni Soviet bisa hidup berdampingan secara damai dengan negara lain yang  berlainan sistem sosialnya (co-existence).

05:21 pm, BY sargani

Text

Sajak-sajak para pujangga yang gila atas cinta akan membuat dunia mengubah kebijakannya. Entah mengapa dan dari mana datangnya. (Mungkin karena dunia jua tengah jatuh cinta.)

Setiap kata yang diguratkan Tuhan di lembaran daun yang mengalir di sungai berwangikan anyelir dapat memberi setiap pencinta sebuah tahta. Kemenangan atas perasaan mereka.

Tadinya aku bukan salah satu dari mereka, aku hanya pengelana. Dan cinta hanya sebuah berita yang datangnya dari raja-raja. Aku sering bernyanyi di istana, kusampaiakn pada raja bahwa cinta hanya melodi-melodi biasa yang jika dinyanyikan bisa membuat sakit telinga.

Tadinya …

Sebelum aku mengunyah kata dan kini dipaksa menelannya. Sebelum senja merona di matanya.

Setiap langkah yang dia ambil, menyisir ketebalan akalku yang tegas hendak melawan kekekalan materi penyusun semesta. Sederhananya, dia membelah mentah-mentah aku tepat menjadi dua bagian. Separuh nyata, separuh cerita.

12:46 am, BY sargani[1 note]

Text
Mariah

Yang kukira tadinya tak dapat kutemukan dari dirimu dan tak perlu aku cari, kini justru kulihat menempel di diriku. Bahkan aku bawa sampai ke atas sajadah. Mungkin memang telah menjadi kemauan kita sebelumnya walaupun tadinya terkunci sendiri kalau sekarang terwujud sehebat ini.

Siapa sangka Vivaldi bisa menari bersamaku sepanjang hari seperti di dongeng-dongeng kami berkelana dari desa ke desa menyebarkan berita tentang berhentinya waktu saat pandanganku bertemu matamu, sementara Santiago masih menggembala dombanya di pinggiran Andalusia.

Telahlah berlalu kemurunganku. Bersamamu, mahluk dari sesuatu yang nyata dan separuh cerita. Dua musim kita bersama, dan musim penghujan membasahi kita dengan air dan cinta.

05:45 pm, BY sargani

Text
Saat Kau Memberiku Sebuah Pandangan

Pertama-tama aku mengecil, manunggal bersama cahaya berputar ke dalamnya, memantul dan berbalik.

Aku, menyisa dalam siluet, berporos di tengah. Bergerak perlahan mengitari (dan diwarnai oleh) irismu.

Sampai mana aku? Seperti yang seharusnya, aku tak berkenan berenang di permukaannya.

aku menyelam atau aku tenggelam?

Petulia-ku….

Tiap, tiap pandangan yang datang dari matamu. Entah kemana aku dibawanya.

———————-dan hanya apabila———————-

pandangan itu sudah kehabisan cerita atau bahkan tak mau lagi bercerita, yang kutatap masih bola mata yang sama. Nostalgia? Mungkin kau masih ingat Petulia…

11:20 pm, BY sargani[2 notes]

quote
i travel in shoes that have been borrowed from other men (that i know so much until the day they died), and the shoes did not always fit.

03:31 am, BY sargani