Herbert Blumer bilang, masyarakat harus dilihat sebagai aksi-aksi manusia. Sementara kaum fungsionalis bilang bahwa ya manusia itu hanya sebuah hasil karya masyarakat. Terlepas dari mana kita mau lihat ‘masyarakat’, yang mau saya kemukakan di sini ialah masyarakat sebagai kepalsuan yang maha.
Banyak teori yang coba membuktikan bahwa manusia bertindak sebagaimana yang di harapkan orang lain agar dia bertindak, ada pula yang bilang dunia ya memang hanyalah sebuah panggung sandiwara di mana seseorang akan bertindak beda apabila ia sedang ada di panggung dengan saat dia ada di belakang panggung. Sedangkan dalam perspektif yang lebih jauh, masyarakat bernorma karena menahan agar individu di dalamnya stabil, langgeng dan bergeraknya secara perlahan. Para ekonomi-determinis bilang (hampir) segalanya berlatar belakangkan ekonomi, urursan agama juga tak terlekkan.
Dari mana semua kepalsuan ini asalnya? Belum diketahui secara pasti. Mungkin kalau kita mau berpikir lebih ‘nakal’, kita akan menemukan ada beberapa pihak yang justru berusaha untuk menyembunyikan, melestarikan, dan mencegah berubahnya segala kepalsuan ini.
Mari ambil contoh, apa saya pria? Anda wanita? Oh ya, maafkan saya. Maksud saya, terlepas dari faktor biologis anda yang mempunyai kemampuan-kemampuan khusus sehingga anda dibedakan dengan manusia lain yang mempunyai kemempuan-kemampuan khusus yang berbeda dengan anda secara alamiah juga; singkat kata apakah anda berjenis kelamin pria atau wanita? Jawabannya mudah hampir untuk seluruh manusia di muka bumi ini.
Namun apabila saya bertanya seperti ini, apakah masyarakat memasukkan anda kedalam satu kelompok tertentu berdasarkan apa yang mereka harapkan berdasarkan jenis kelamin anda; apakah anda seorang yang feminim atau maskulin? Bukan pertanyaan mudah bagi sebagian dari kita, dan jumlah mereka terus meningkat. Dari sini kita bertanya, tak kurang kejamkah masyarakat hingga mengurusi urusan manusia sampai sebegitu jauhnya?
Contoh lain yang saya ingin kedepankan yaitu, cita-cita seseorang mungkin saja akan lebih mudah ataupun lebih sulit untuk dicapai bergantung di mana (di negara) mana dia tinggal. Sekali lagi, saya bisa menyimpulkan bahwa cita-cita seseorangpun merupakan buah karya (kekejaman) masyarakat. Lebih mudahnya perkenankan saya mengambil contoh dari suku-suku pedalaman. Apabila saya bertanya kepada seorang Badui Dalam, apakah mereka ingin untuk menapakkan kaki mereka di atas Bulan? Kemungkinan besar jawaban mereka ‘tidak’. Mungkin saja mereka mempertanyakan apa sebenarnya bulan itu, kenapa ada di atas san lain-lain. Namun maaf sekali, jawaban mereka akan dibatasi oleh norma yang berlaku. Mungkin Puun (pemimpin spiritual suku Badui) akan memberikan jawaban seperti “itu tempat tinggal Dewa Langit, taboo untuk mempertanyakannya.” Selesai urusan. Jangan tanya apakah kalian pernah ingin pergi dari tempat ini mengarungi laut dan mendirikan rumah di atas gunung. Jangan tanyakan pula, apakah kalian ingin mempunyai saham Apple Inc. Kehidupan mereka cukup dengan seperti mereka keseharian. Itu masyarakat mereka, bukan hanya menghambat terwujudnya mimpi para anggotanya, contoh di atas lebih berat ‘mengurung’ masyarakatnya untuk tidak bercita-cita yang tidak-tidak. Tentu terlepas dari indikator rasa ‘cukup’ mereka. Maka patutkah kita bertanya kemauan manusia itu tak terbatas jiak kita mengacu pada contoh di atas? Seperti kata penyair zaman dinasti Song, Su Shi “Jika engkau mengerti arti cukup, engkau kaya.”
Masyarakat ini tidak adil, sangat kejam. Dengan penyatuan dunia dalam fenomena globalisasi, dunia dipaksa menjadi satu kesatuan sistem. Dalam sistem itu terdapat sub-subsistem yang dapat dengan mudah ditukarkan dengan atau tanpa maksud apapun tapi tentu membawa pengaruh yang tidak diketahui siapapun kecuali mungkin pihak yang memulai pertukaran subsistem itu. Ambil contoh, budaya (mengacu pada definisi menurut Carol Ember) yang kita dapat sekarang ini sudah bukan lagi budaya Indonesia dalam arti teritorial lagi -karena budaya Indonesia pun sejak zaman dahulu telah bercampur aduk dengan kebudayaan dari luar. Makin kabur budaya apa yang tertanam dalam benak kita masing-masing ini, secara sadar maupun tidak. Masyarakat dunia tidak (mau peduli dan) melihat banyaknya perbedaan yang masih elementer di tiap negara untuk digeneralisasikan ke dalam tatanan sistem dunia yang menyatu.
Secara tidak sadar banyak dari kita yang ingin seperti orang (supaya mudah saya sebut saja) Barat. Kebudayaan mereka kita serap. Seperti kata Ember, budaya ada 3, ide, aksi dan materi. Ide budaya mereka kita telah dapat walaupun tafsir kita mengenai ide budaya mereka masih dipertanyakan. Perilaku mereka kita imitasi, terlepas dari seberapa kompetennya (faktor alam dan sosial) kita untuk menerapkannya di negara yang bukan dari tempat budaya itu berasal. Materil kita buat tiruan supaya mengkomplitkan jalan kita untuk jadi ‘mereka’. Beberapa dari kita ada yang merasa telah berhasil jadi ‘mereka’, tapi yang jadi masalah adalah beberapa dari kita yang tidak pernah berhasil untuk menjadi ‘mereka’. Mereka yang tidak berhasil adalah mereka yang secara tidak sadar memiliki cita-cita yang dihasilkan dari nilai-nilai yang ia dapat dari globalisasi. Tertanam dalam dirinya cita-cita itu begitu dalam. Menjadi ‘budaya’ dirinya. Namun ia tak melihat bahwa kondisi (alam dan sosial) di tempat dia tinggal sangat jauh berbeda dengan tempat asal nilai yang kini dia anut itu.
Agar mudah, tanpa maksud mendiskreditkan siapapun, mari kita ambil contoh musik atau fesyen. Blues datang dari Amerika sebagai bentuk curahan hati para kaum kulit hitam yang saat itu masih ‘mudah’ dinomorduakan bahkan direnggut nyawanya. Lama kelamaan Eric Clapton juga memaikan musik Blues ini padahal dia seorang putih. Terbukti ide bisa mengalami distorsi. Singkat cerita musik bukan lagi sekedar seni, tetapi juga menjadi industri. Kapitalis untuk lebih kasarnya. Dibantu globalisasi mereka menyerbu ke kita. Lahirlah Blues di kita, kita anut. Kita lupa kata Gramsci, hegemoni kebudayaan menyebar ya cuma hanya untuk melanggengkan hegemoni negara yang menyebarkan budaya itu agar mereka untung. Mudahnya kita lihat kebenaran teori Gramsci ini lewat kecenderungan anak kecil kita (anak kecil dinilai sebagai manusia yang mudah dijadikan contoh karena umur mereka yang masih muda sehingga belum kompleks) mendengarkan lagu K-Pop dibandingkan dengan keroncong. Terlihat sederhana, and taken for granted by us. Namun lihat hasilnya, komunitas keroncong tak sebanyak dulu lagi, pemusiknya pun kebanyakan berusia lanjut, sulit mencari penerus, musik mereka tak lagi ‘merdu’. Sementara industri musik Korea makin kipas-kipas menikmati keuntungan dari happening-nya musik mereka di negara kita tercinta ini.
Itu hanya contoh yang mudah kita cerna. Bagaimana dengan ideologi dan lainnya, yang juga termasuk budaya? Relatif sama.
Terakhir, sebagai penutup, saya ingin mengajak Anda berimajinasi. Bagaimana kita seandainya kita seorang Badui? Masihkah kita akan dipusingkan dengan ketidakpastian pasar modal, nilai mata uang dan harga minyak? Akankah kita lebih mudah merasa cukup dengan yang Sang Khalik Berikan?
Sebaliknya, akankah kita hidup lebih mudah di sebuah welfare state yang mengadopsi sistem sosial demokratis? Akankah ketidakpastian-ketidakpastian yang di masa depan menimpa kita lebih mudah terjawab?
Kalau masyarakat ada di luar jangkauan kita dan kita pasrah akan hal itu, selanjutnya siapa yang jadi korban? Apa kita hasil dari masyarakat atau lebih tepat disebut sebagai korban?